Tampilkan postingan dengan label Ternak Sapi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ternak Sapi. Tampilkan semua postingan

15 Agustus 2016

Jenis-Jenis Sapi Potong Tropis

Ternak sapi yang berkembang hingga kini bersumber dari Homacodontidae yang ditemukan pada masa Palaeoceen. Jenis-jenis awal ternak sapi ini ditemukan di India pada masa Plioceen (Sosroamidjojo, S.1975). Jenis-jenis sapi tersebut berkembang menjadi 3 golongan besar yang banyak dikenal hingga kini. Tiga golongan tersebut yaitu;
a. Bos Sondaicus; jenis sapi hasil dari domestikasi (penjinakan) Banteng.
b. Bos Indicus; turunan dari sapi Zebu yang berpunuk dan banyak ditemukan India.
c. Bos Taurus; turunan dari Bos Primigenius atau sapi bertanduk pendek yang terdapat di Eropa.

Dari golongan sapi tersebut di atas, penggolongan berdasarkan produksi utama dibedakan mejadi 3 yaitu tipe perah (banyak menghasilkan susu), tipe potong (menghasilkan daging) dan tipe kerja. Ternak sapi tipe kerja banyak terdapat di Indonesia.

Hal ini tidak terlepas dari sistem pertanian yang masih tradisional yaitu pembajakan sawah dilakukan menggunakan ternak sapi. Bukan hanya sapi jantan yang digunakan melainkan juga sapi betina. Sapi betina bunting yang digunakan sebagai pembajak sawah baru bisa diistirahatkan pada usia kebuntingan yang tua. Ini juga menjadi salah satu penyebab utama kematian pedet yang tinggi di Indonesia.

Sapi potong Indonesia adalah jenis sapi asli Indonesia dan atau ternak sapi dari luar negeri yang telah disilangkan hingga keturunan kelima (5). Dalam Undang-Undang (UU) Peternakan dan Kesehatan Hewan Nomor 18 tahun 2009, disebutkan bahwa ternak lokal merupakan hasil persilangan atau introduksi dari luar yang telah dikembangbiakkan di Indonesia hingga generasi kelima atau lebih yang telah dapat beradaptasi dengan lingkungan dan atau manajemen yang dilakukan.

Jenis-jenis sapi potong Tropis antara lain;
a. Sapi Bali
Sapi Bali adalah keturunan asli Banteng yang telah didomestikasi (dijinakkan). Sapi Bali pada awalnya banyak terdapat di Pulau Bali. Namun kini sapi Bali telah tersebar merata ke seluruh daerah di Indonesia. Persentase karkas sapi Bali cukup tinggi yaitu mencapai 56,9 %. Sapi Bali betina dikenal paling produktif. Tingkat fertilitas sapi Bali mencapai 80 % sedangkan sapi dari jenis Bos Taurus dan Bos Indicus hanya mencapai 50 - 70 %.

Ciri-ciri sapi Bali yaitu tinggi sapi dewasa mencapai 1,30 m, bobot badan antara 300 sampai 400 kg, keempat kaki mulai dari sendi tarsus dan carpus ke bawah hingga kuku dan bagian belakang pelvis berwarna putih, memiliki garis hitam (garis belut) pada punggungnya.

Tanduk sapi jantan tumbuh mengarah ke latero-dorsal dan terus membelok ke dorso-cranial, sedangkan tanduk betina tumbuh mengarah ke latero-dorsal terus ke dorso-medial. Ciri khas sapi Bali yaitu sewaktu pedet berwarna merah bata. Setelah dewasa, warna sapi jantan akan berubah menjadi kehitam-hitaman sedangkan sapi betina tetap berwarna merah bata.

Sapi Bali
(www.satwapedia.com)

b. Sapi Madura
Sapi Madura diduga sebagai hasil persilangan Bos Indicus dengan Bos Sondaicus (Banteng). Sapi ini telah tersebar ke berbagai wilayah di Indonesia dengan basis utama yakni Pulau Madura dan Jawa Timur. Persentase karkas sapi Madura mencapai 47,9 % (Sosroamidjojo, S. 1975).

Ciri-ciri sapi Madura yaitu memiliki punuk, sapi jantan dan betina berwarna merah bata, tanduk melengkung setengah bulan dengan ujung mengarah ke depan. Bobot badan sapi dewasa mencapai 350 kg dengan tinggi pundak rata-rata 118 cm.

c. Sapi Ongole
Sapi Ongole berasal dari India yakni dari jenis sapi Zebu (berpunuk). Awal masuk sapi ini ke Indonesia yaitu pada permulaan abad ke-20 dan banyak dikembangkan di Pulau Sumba. Oleh karenanya, sapi Ongole di Indonesia sering disebut Sumba Ongole. Persentase karkas sapi Ongole mencapai 44 % dan merupakan tipe kerja yang baik. Sapi Ongole termasuk jenis sapi yang lambat menjadi dewasa yakni pada umur 4 hingga 5 tahun.

Ciri-ciri sapi Ongole antara lain; memiliki punuk yang besar, pada daerah bawah leher dan perut ditemukan gelambir, ukuran telinga agak panjang, bentuk telinga terkulai ke samping tapi tidak lemah, kepala agak pendek, mata besar dan tenang. Sapi Ongole memiliki tanduk yang kecil dan kadang hanya menyerupai bungkul kecil. Tanduk sapi betina lebih panjang daripada jantan, warna bulu putih dan putih kehitaman. Tinggi sapi jantan ± 150 cm, sapi betina ± 135 cm dengan bobot jantan ± 600 kg dan betina ± 450 kg.

d. Sapi Aceh
Sapi Aceh merupakan hasil grading up (perkawinan silang yang keturunannya disilangkan kembali dengan bangsa pejantannya untuk mengubah bangsa induk menjadi bangsa pejantan) sapi Ongole dengan sapi lokal Aceh. Sapi Aceh tersebar di daerah Aceh dan daerah Sumatera Utara.

Ciri-ciri sapi Aceh antara lain; memiliki punuk dan memiliki tanduk, berwarna cokelat merah. Bobot badan sapi jantan umur 3–4 tahun berkisar antara 300-400 kg sedangkan sapi betina pada umur yang sama berkisar antara 200-300 kg.

e. Sapi Peranakan Ongole (PO)
Sapi Peranakan Ongole banyak terdapat di Pulau Jawa dengan konsentrasi penyebaran di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di daerah Sumatera banyak dijumpai di daerah Aceh dan Tapanuli Selatan.

Ciri-ciri sapi Peranakan Ongole antara lain; memiliki postur dan bobot tubuh yang lebih rendah dari sapi Ongole, memiliki punuk dan gelambir yang lebih kecil, umumnya warna kulit dan rambut tubuh berwarna putih dan atau putih agak kelabu.

13 Agustus 2016

Manajemen Reproduksi Sapi

Menurut Partodihardjo (1992), dengan manajemen pemeliharaan yang baik, ternak sapi di Indonesia bisa mencapai masa pubertas atau dewasa kelamin pada umur 12 bulan dengan kisaran 10-12 bulan. Kendati demikian, sapi betina sebaiknya baru dikawinkan pada umur 14-16 bulan setelah mencapai dewasa tubuh.

Sapi Induk
(nugroho-slamet-w.blog.ugm.ac.id)

Sapi betina yang bunting tua dipelihara terpisah dari kelompoknya. Jarak kelahiran (calving interval) yang ideal bagi sapi Bali adalah 12 bulan. Faktor-faktor yang menyebabkan panjangnya jarak kelahiran yaitu; nutrisi pakan, genetik, tahapan seekor induk beranak (paritas), kesehatan reproduksi, dan umur induk.

Menurut Toelihere (1981), faktor lain yang menyebabkan panjangnya jarak kelahiran yaitu anestrus pasca beranak (62%), gangguan fungsi ovarium dan uterus (26%), 12 % oleh gangguan lain.

Umur sapi Bali saat beranak atau partus pertama adalah 24 bln. Dengan manajemen pemeliharaan yang baik, sapi dara sudah seharusnya dikawinkan pertama kali pada umur 15 bulan.

Masa kebuntingan sapi Bali yaitu 9 bulan 10 hari atau 280 hari. Masa Estrus Post Partum atau berahi pertama setelah beranak terjadi pada hari ke-160. Bebeda dengan sapi-sapi sub-tropis yang hanya berkisar 50-60hari.

Masa involusi uterus terjadi pada hari ke-45. Involusi uterus adalah masa kondisi uterus kembali ke posisi normal setelah induk beranak. Dengan demikian, perkawinan pertama setelah beranak (post partum matting) baru dapat dilakukan pada umur 63 hari atau saat terjadi berahi kedua.

Manajemen reproduksi sapi Bali yang tepat dan efisien ditunjang dengan waktu penyapihan dini, bisa menghasilkan 1 ekor pedet dalam setahun dan atau 2 ekor dalam 3 tahun.

Affandhy et al. (2001) menyatakan bahwa penyapihan pedet yang dilakukan pada umur 84 hari dengan pemberian susu induk atau penyusuan tanpa dibatasi, menunjukkan kinerja ovarium mencapai 90% dan terjadinya estrus mencapai 50 %. Sedangkan pada umur penyapihan pedet 4-6 bulan, masa anestrus post partum dan jarak beranak akan semakin panjang. Dengan demikian, efisiensi reproduksi sapi semakin rendah.

Manajemen Pemeliharaan Pedet

Pedet adalah sapi berumur 2 bulan atau lepas sapih sampai berumur kurang lebih 6 bulan. Waktu penyapihan pedet bervariasi. Pemeliharaan pedet harus dimulai sejak pedet dalam kandungan. Perlakuan yang diperlukan untuk jaminan kesehatan pedet adalah dengan memperhatikan mengurangi pemakaian sapi bunting sebagai tenaga kerja dan memperhatikan jumlah dan kualitas pakannya. Terutama bagi sapi betina yang telah bunting tua atau 3 bulan menjelang partus.

Anak sapi (pedet)
(www.bibitternak.com)

Sapi betina bunting perlu diberi pakan tambahan. Tujuannya adalah menyediakan suplai makanan bagi pedet di dalam kandungan dan bagi tubuh induk sendiri. Pemberian pakan tambahan berupa konsentrat dapat diberikan sebanyak 2,5–3,0 kg. Standar gizi pakan untuk sapi betina bunting pada setiap peternakan berbeda-beda. Standar yang sering dijadikan acuan adalah yang telah dilampirkan dalam Standar Nasional Indonesia (SNI).

Tanda-tanda kelahiran pedet yaitu ambing membesar dan nampak tegang, urat daging di sekitar vulva mengendor, di bagian kanan dan kiri pangkal ekor nampak adanya legok. Induk sapi yang menunjukkan tanda seperti di atas sebaiknya ditempatkan di kandang yang bersih dan kering. Kandang untuk partus atau beranak sebaiknya dilengkapi dengan jerami padi atau serbuk kayu kering sebagai alas lantai.

1. Penanganan Kelahiran Pedet
Hal-hal penting yang harus diperhatikan dan dilakukan setelah pedet dilahirkan yaitu; membersihkan lubang hidung dan mulut dari lendir, lalu seluruh tubuh. Usahakan induk sapi membersihkan pedet dengan menjilati tubuh pedet selama 10 - 15 menit.

Bila pedet kesulitan bernafas, perlu diberikan nafas buatan. Caranya adalah dengan menaik-turunkan kedua kaki belakang sampai pedet bernafas normal. Bila masih belum bernafas normal, lakukan penekanan dan peregangan secara bergantian sampai dapat bernafas dengan baik. Apabila pedet tidak dapat mengangkat kepalanya, berikan perlakuan dengan mengangkat dan menurnunkan pedet beberapa kali lewat melalui kaki belakang hingga sisa lendir keluar dari mulut dan hidung.

Potong tali pusar 3-5 cm dari perut dan olesi dengan desinfektan seperti yodium tincture. Timbang pedet untuk mengetahui berat lahir. Apabila pedet lahir sehat dan kuat biasanya setengah jam setelah lahir sudah dapat berdiri sendiri.

Selanjutnya yaitu masukkan pedet ke kandang yang sudah dipersiapkan yaitu kandang yang sudah dibersihkan dan di beri alas (bedding) supaya hangat. Kriteria pedet yang baik adalah bobot badan lahir 31,5 – 51,5 kg, bulu badan mengilap, mata bersinar, lincah dan mampu berdiri dalam waktu yang relatif tidak lama.

2. Pemberian Kolostrum
Pedet yang baru lahir diupayakan harus memperoleh kolostrum. Kolostrum adalah susu yang dihasilkan oleh induk setelah melahirkan sampai umur pedet 5-6 hari. Makin cepat kolostrum masuk ke abomasum dan intestinum, penyerapan antibodi ke dalam darah semakin cepat. Akibatnya kemampuan pedet melawan penyakit makin baik.

Kolostrum mengandung antibodi, mudah diserap oleh dinding usus pedet, memiliki kandungan gizi yang lebih tinggi dari susu biasa terutama protein, mineral, lemak, dan vitamin. Selain itu, kolostrum juga mengandung enzim yang mampu menggertak fungsi sel-sel alat pencernaan, mengandung inhibitor trypsin.

Pemberian kolostrum dapat dilakukan dengan botol yang diberi selang karet lunak dan menggunakan ember. Pemberian kolostrum dengan ember perlu kesabaran. Biarkan pedet menjilat jari yang telah dibasahi kolostrum. Perlahan-lahan bawa ke dalam ember hingga mulut pedet masuk ke dalam kolostrum. Perlahan-lahan lepaskan jari dari mulut pedet. Perlakuan tersebut perlu diulang sampai pedet mau minum kolostrum.

3. Pemberian Susu
Pemberian susu dimulai pada hari ke-8 sampai umur 3 bulan dan diberikan 2 kali dalam sehari. Berikan susu dalam keadaan segar dan hangat. Jumlah susu yang diberikan sesuai dengan umur pedet, menggunakan wadah yang bersih. Pemberian diusahakan pada waktu yang sama setiap harinya. Standar pemberian susu pada pedet bervariasi. Biasanya pada peternakan rakyat, pedet dibiarkan bersama induk hingga umur 205 hari.

4. Pemberian Pakan
Pedet akan bertumbuh dengan optimal jika diberi pakan yang terjamin kualitas dan kuantitasnya. Bobot lahir yang tinggi mengindikasikan bahwa pedet berasal dari tetua dengan kualitas baik. Sehingga potensi produktivitasnya sangat tinggi.

Pada umur satu minggu, lambung pedet masih sederhana. Rumen, retikulum dan omasum belum berkembang. Abomasum merupakan bagian yang terbesar (70%) dari total alat pencernaan. Susu yang diminum langsung ke abomasum lewat oesophageal groove yaitu saluran yang mencegah susu masuk ke rumen. Dan akan langsung diserap oleh intestinum.

Rumen tidak berkembang sampai konsentrat atau hijauan diberikan. Agar rumen segera berkembang maka pada umur 1 - 2 minggu, pedet mulai dilatih makan pakan kasar berupa konsentrat dan hijauan. Konsentrat pada pedet sebaiknya mengandung protein tercerna sebanyak 18 %. Pakan kasar akan masuk ke dalam rumen dan akan dicerna oleh bakteri rumen yang selanjutnya akan merangsang perkembangan rumen.

Apabila pedet diberi konsentrat dan hijauan pada umur 1 minggu maka rumen akan berfungsi secara penuh. Saat pedet berumur 2 - 3 bulan, volume rumen mencapai 70% dari volume alat pencernaan dan pada saat dewasa volume rumen 80% dan abomasum 7%. Cara melatih pedet untuk mengkonsumsi konsentrat dilakukan seperti melatih pedet saat minum susu.

5. Pengontrolan Pertumbuhan
Pengontrolan pertumbuhan pedet dilakukan dengan menimbang bobot lahir, bobot pada umur 3 bulan, umur 6 bulan, umur 9 bulan dan seterusnya. Umur penimbangan bobot badan bersifat relatif bergantung pada peternak. Pengukuran bobot badan dapat dilakukan menggunakan timbangan dan menggunakan rumus. Jika menggunakan rumus, maka perlu diukur tinggi gumba, lingkar dada dan panjang badan. Pengukuran diperlukan untuk mengevaluasi manajemen pemeliharaan sudah memenuhi standar atau belum.

Selain mengontrol pertumbuhan pedet, latihan atau exercise juga perlu dilakukan pada pedet secara terjadwal. Penggembalaan atau exercise diberikan pada pedet umur 2 minggu, 3 kali setiap minggu. Dengan penggembalaan pedet bisa bergerak bebas sehingga membantu perkembangan tubuh dan tulang.

Pemilihan Sapi Bakalan Untuk Penggemukan

Semua jenis ternak sapi dapat digunakan sebagai bakalan dalam penggemukan. Kendati demikian, tidak semua jenis ternak sapi berpotensi sebagai bakalan penggemukan. Beberapa indikator yang harus diperhatikan oleh peternak demi terpenuhinya kontinuitas sapi bakalan yaitu;

Pertama; jumlah populasi. Jumlah populasi yang maksimal sangat memudahkan peternak dalam menemukan sapi bakalan. Untuk mengetahui populasi ternak sapi di Indonesia, dapat digunakan data dari statistik peternakan nasional. Jumlah populasi ternak sapi pada tahun 2015 tercatat sebanyak 15,4 juta ekor.

Sapi bakalan
(jualhewansapimurah.wordpress.com)

Dari jumlah populasi di atas, terdapat berbagai jenis sapi potong lokal. Sapi bakalan untuk penggemukan sebaiknya dari jenis yang banyak terdapat di daerah sekitar. Hal ini dimaksud agar mengurangi biaya transportasi pengadaan bakalan. Pembengkakan biaya transportasi dapat memicu makin tingginya biaya produksi.

Dalam pemilihan sapi bakalan, dapat menggunakan sapi bakalan lokal maupun impor. Kelebihan penggunaan sapi lokal yaitu; bakalan mudah diperoleh, tersedia dalam jumlah banyak, dapat diperoleh dengan harga yang terjangkau. Kekurangannya adalah memiliki efisiensi dan pertambahan bobot badan yang lebih rendah dari sapi bakalan impor.

Kedua; jumlah pertambahan populasi sapi. Pertumbuhan sapi potong setiap tahun mencapai 5,33 % atau sekitar 655.000 ekor per tahun. Pertambahan jumlah dengan melihat angka pertumbuhan ini cukup besar. Artinya, potensi ketersediaan dan kontinuitas sapi bakalan akan terjamin.

Ketiga; penyebaran sapi. Jumlah populasi sapi yang tinggi tidak mutlak merata di setiap daerah. Apalagi dengan kondisi Indonesia sebagai negara kepulauan. Karena itu, dalam pemilihan sapi bakalan harus diperhatikan penyebaran jenis sapi yang paling banyak terdapat di daerah atau lokasi peternakan dan atau daerah terdekat.

Penyebaran jenis sapi potong berbeda-beda dalam setiap daerah. Misalnya sapi Bali dan sapi Sumba Ongole banyak terdapat di Nusa Tenggara Timur (NTT). Akan tetapi, sapi Sumba Ongole mayoritas hanya terdapat di Pulau Sumba. Sedangkan untuk daerah NTT lainnya, penyebaran populasinya relatif kecil. Indikator penyebaran jenis sapi ini perlu diperhatikan untuk menjamin kontinuitas ketersediaan sapi bakalan dalam penggemukan.

Keempat; produksi karkas. Karkas merupakan bagian tubuh ternak hasil pemotongan dikurangi kepala, ke-empat kaki bagian bawah (mulai dari carpus dan tarsus), kulit, darah, organ dalam (hati, jantung, paru-paru, limpa, saluran pencernaan dan isi dan saluran reproduksi). Ginjal, lemak pelvis, otot diafragma dan ekor sering diikutkan pada karkas (Berg & Butterfield, 1976; Lawrie, 1985).

Hasil produksi karkas dinyatakan dalam persen (%), baik berdasarkan karkas panas (hot carcass) maupun karkas layu (cold carcass). Pada karkas layu biasanya terjadi penyusutan sebesar 2 – 3 %. Persentase karkas merupakan perbandingan antara bobot karkas dengan bobot tubuh kosong atau bobot potong dikalikan 100%. Persentase karkas dipengaruhi oleh bobot karkas, bobot ternak, kondisi ternak, bangsa, proporsi bagian-bagian non karkas, umur dan jenis kelamin. Konformasi karkas akan meningkat dengan meningkatnya bobot potong.

Produksi karkas ditentukan oleh bobot badan ternak dan persentase karkas yang dihasilkan. Tingkat produksi karkas setiap jenis sapi potong berbeda-beda. Semakin tinggi produksi karkas, semakin mahal pula harga sapi tersebut. Hal ini dikarenakan, produk utama dari jenis ternak penggemukan adalah produksi karkas.

Tabel 1. Produksi Karkas Jenis Sapi Lokal
Jenis Sapi Rataan BB Dewasa (Kg) Rataan Persentase Karkas (%) Produksi Karkas (Kg)
Sapi Peranakan Ongole (PO) 302,6 (Kg) 45,3 (%) 137,1 (Kg)
Sapi Bali 352,4 (Kg) 56,9 (%) 200,5 (Kg)
Sapi Madura 258,3 (Kg) 47,9 (%) 123,7 (Kg)
Sapi Ongole 368,0 (Kg) 44,9 (%) 165,2 (Kg)
Sumber: Studi kasus Ternak Potong, 1967

Tabel 1 menunjukkan bahwa produksi karkas tertinggi ditunjukkan oleh sapi Bali, diikuti oleh sapi Madura, sapi PO dan sapi Ongole. Ditinjau dari produksi karkas, sapi Bali lebih berpeluang digunakan dalam penggemukan. Hal ini didukung oleh penyebaran sapi Bali yang mudah ditemui di berbagai daerah di Indonesia.

Kelima; efisiensi penggunaan pakan. Efisiensi pakan dapat diketahui dari angka konversi pakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa efisiensi penggunaan pakan pada sapi Bali adalah 9,8, sapi Ongole sebesar 13,29 dan sapi Madura 13,13. Semakin rendah angka konversi pakan, semakin efisien penggunaan pakan. Pertimbangan memilih sapi bakalan selain efisien penggunaan pakan, harus juga didasarkan atas empat pertimbangan sebelumnya.

Keenam; deskripsi sapi bakalan. ciri-ciri sapi bakalan yang akan digunakan dalam penggemukan yaitu; berjenis kelamin jantan, memiliki struktur tulang yang besar kendati kondisi tubuh kurus, tinggi gumba maksimal, keempat kaki normal atau tidak pincang, testes dalam keadaan normal, berumur 1,5–2,5 tahun. Struktur tulang yang besar memungkinkan perlekatan otot yang banyak.

Sistem Penggemukan Sapi Potong

Ada beberapa sistem penggemukan ternak sapi. Perbedaan sistem penggemukan ini sering didasarkan pada teknik pemberian pakan, luasan areal lahan, umur, kondisi sapai dan jangka waktu penggemukan. Beberapa sistem penggemukan sapi potong yang dikenal antara lain;

a. Pasture Fattening
Adalah sistem penggemukan sapi yang mana sapi dilepaskan atau digembalakan di padang. Pakan yang diperoleh ternak sapi hanya bersumber dari padang penggembalaan. Oleh karena itu, dalam sistem penggemukan Pasture Fattening, padang penggembalaan diupayakan mempunyai hijauan pakan yang berlimpah dan memenuhi standar gizi yang diinginkan.

Caranya adalah menanam hijauan leguminosa (kacang-kacangan) di antara rerumputan (lapangan). Leguminose diharapkan dapat memenuhi kebutuhan protein sapi. Jenis-jenis leguminose yang disarankan yaitu Arachis, Centrocena, Lamtoro, Siratro, Desmodium trifolium.

Dalam penggemukan sistem ini, kapasitas sapi tiap luasan padang penggembalaan perlu diperhatikan agar tidak terjadi tekanan penggembalaan yang berlebihan (over grazing). Pada padang penggembalaan perlu disediakan sumber air minum dan mineral dalam bentuk blok. Tanaman leguminose berbentuk pohon dibutuhkan sebagai tempat sapi berteduh, misalnya lamtoro dan Samania Saman.

Penggembalaan sapi
(www.minang-terkini.com)

Penggemukan sistem Pasture hanya bisa dilakukan di daerah yang memilki padang penggembalaan luas. Misalnya daerah Sumatera, Kalimantan, Nusa Tenggara Timur dan Sulawesi Selatan. Penggemukan ini tidak cocok dilakukan di daerah padat penduduk seperti pulau Jawa dan Bali. Sistem penggemukan Pasture membutuhkan waktu penggemukan yang relatif lama yakni 8-10 bulan.

Biaya produksi pada sistem penggemukan ini lebih murah dibandingkan sistem yang lain. Hal ini disebabkan karena tidak membutuhkan banyak tenaga kerja dan biaya pakan rendah sebab hanya mengandalkan hijauan pakan yang tersedia di alam. Biasa untuk pakan tambahan hanyalah untuk menyediakan mineral blok.

Pengelolaan padang penggembalaan patut diperhatikan oleh peternak. Cara untuk menjaga kontinuitas ketersediaan hijauan yaitu dengan mengatur pola rotasi padang penggembalaan. Cara ini dilakukan dengan memperhatikan kapasitas sapi per luas padang.

b. Dry Lot Fattening
Adalah sistem penggemukan sapi dengan pemberian ransum berupa biji-bijian secara terus-menerus atau intensif. Ransum atau konsentrat paling banyak diberikan pada ternak sapi pada sistem ini. Konsentrat yang dibuat dapat terdiri dari dedak padi, bungkil kelapa sawit, bngkil kacang tanah, bungkil kelapa sawit, jagung, bekatul, polard, ampas tahu dan lain-lain. Perlu pula ditambahkan sumber kalsium dan mineral misalnya tepung tulang dan garam.

Pakan berupa hijauan tetap diberikan pada sapi, tapi dalam jumlah sedikit yakni 20-40 %. Sistem Dry Lot tidak sepenuhnya menggunakan konsentrat sebab secara fisiologi sapi membutuhkan serat kasar yang berasal dari hijauan. Selain itu, penggunaan pakan konsentrat di atas 60 % seringkali tidak ekonomis sebab harga konsentrat yang sangat mahal.

Penggemukan sapi
(royalpoultry.co)

Penggemukan Sistem Dry Lot sering disebut system penggemukan intensif. Pada sistem ini, sapi dikandangkan terus-menerus. Pemberian pakan dan air minum dilakukan oleh peternak. Waktu penggemukan yang dibutuhkan lebih pendek sekitar 4-6 bulan. Bahkan belakangan ada peternakan tertentu yang hanya membutuhkan waktu 3 bulan untuk penggemukan. Biasanya hal ini terjadi pada penggemukan sapi impor.

c. Kombinasi Pasture Fattening dan Dry Lot Fattening
Sistem ini banyak dilakukan di daerah sub tropis maupun tropis atas pertimbangan musim dan ketersediaan pakan. Pada daerah subtropis, sebelum salju turun pada musim dingin, sapi digemukkan dengan sistem pasture. Setelah turunnya salju, penggemukan sapi dilanjutkan dengan sistem Dry Lot.

Di daerah tropis, pada saat musim penghujan banyak hijauan pakan di padang yang tersedia sehingga dilakukan penggemukan secara pasture. Sebaliknya, memasuki musim kemarau, sapi digemukkan secara intensif di dalam kandang. Hal ini dilakukan agar kebutuhan pakan sapi dapat terpenuhi optimal.

Istilah Sistem kombinasi ini sering digunakan pada pola penggemukan; penggembalaan pada siang hari lalu dikandangkan pada malam hari. Saat dikandangkan sapi diberi pakan tambahan berupa konsentrat. Waktu penggemukan sistem kombinasi berkisar antara 6-8 bulan.

Peluang Bisnis Sapi Potong

Peternakan sapi potong hingga saat ini berada dalam kondisi yang sangat prospektif secara bisnis. Ada beberapa hal yang mejadi landasan yaitu; tingkat pendidikan yang makin maju mendorong opsi konsumsi protein semakin tinggi. Selain itu, peningkatan pendapatan per kapita penduduk yang semakin tinggi juga menjadi faktor pendukung. Protein berfungsi meningkatkan kecerdasan, meningkatkan massa otot, meningkatkan antibodi tubuh. Dengan demikian, konsumsi protein per orang yang tinggi dapat berpengaruh positif terhadap kemajuan suatu bangsa.

Daging sapi
(herosupermarket.co.id)

Dari data yang dilansir BPS tahun 2014, disebutkan bahwa tingkat konsumsi protein penduduk Indonesia telah mencapai 53,91 gr/kap/hr atau equivalen dengan 19,67 kg/kap/thn. Dari jumlah tersebut, kontribusi daging sapi baru sebesar 2,6 kg/kap/thn. Jumlah ini sangat jauh dibandingkan konsumsi negara Malaysia dan Singapura yang mencapai 15 kg/kap/thn. Atau negara Argentina yang mencapai 55 kg/kap/thn, Brazil sebesar 40 kg/kap/thn, Jerman sebesar 42 kg/kap/thn.

Tingkat konsumsi daging sapi yang rendah tersebut diperkirakan akan terus meningkat seiring dengan meningkatnya kesadaran penduduk akan pentingnya protein bagi tubuh. Persoalannya sekarang adalah dengan tingkat konsumsi yang masih rendah tersebut pun, belum bisa terpenuhi dari produksi sapi dalam negeri.

Rendahnya produksi sapi lokal disebabkan oleh banyak hal. Satu yang paling penting diantaranya adalah pemeliharaan yang masih bersifat tradisional, hanya sebagai usaha sambilan. Dengan pola pemeliharaan tradisional dan sifatnya hanya sebagai usaha sambilan, maka segala aspek penting dalam pengelolaan ternak menjadi hal yang tak penting untuk diperhatikan. Mulai dari kualitas turunan yang kian hari kian kecil, pakan yang asal-asalan (kualitas dan kuantitas rendah), penangan kesehatan yang tidak diperhatikan dan tidak berorientasi bisnis. Akibatnya, meskipun secara populasi ternak sapi lokal kita telah melebihi 17 juta ekor (akhir 2015), secara kualitatif belum mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Berangkat dari hal tersebut di atas, usaha atau bisnis di bidang peternakan sapi potong masih sangat menggiurkan. Tentunya dengan penanganan yang terpadu mulai dari bibit, pakan serta manajemen pemeliharaan. Karenanya, kecenderungan yang menjadi pilihan saat ini adalah usaha peternakan intensif dalam jangka waktu yang pendek. Usaha yang khusus bergerak di bagian penggemukan dengan waktu minimal 3 bulan. Durasi waktu yang singkat memungkinkan perputaran modal terjadi dalam waktu yang cepat sehingga mendatangkan keuntungan yang lebih besar.

Jenis-Jenis Sapi Potong Sub Tropis

Sapi potong sub tropis dikenal sebagai sapi yang bertanduk pendek. Bahkan ada beberapa diantaranya tidak memiliki tanduk. Jenis sapi sub tropis terdiri dari dua tipe yaitu tipe perah (menghasilkan susu) dan tipe potong (menghasilkan daging). Jarang ditemukan sapi potong sub tropis digunakan sebagai ternak kerja.

Selain dicirikan oleh tanduk yang kecil, sapi sub tropis dikenal dengan bobotnya yang sangat besar. Bobot sapi potong sub tropis bahkan mampu mencapai lebih dari 1.000 kilogram (kg). oleh karena bobotnya yang relatif besar dan pertumbuhan yang cepat, sapi potong sub tropis telah banyak dikembangkan di Indonesia oleh perusahaan-perusahaan impor.

Berikut ini akan dijelaskan beberapa jenis sapi potong sub tropis yang populer untuk penggemukan.
a. Sapi Limousin
Sapi Limousin awalnya dipelihara dan dikembangkan sebagai ternak kerja di Perancis Tengah. Sapi Limousin termasuk jenis sapi yang berukuran tubuh besar tapi sedikit lebih kecil dari sapi Charolais. Sapi Limousin adalah sapi potong berkualitas baik ditandai dengan tubuhnya yang panjang dan tingkat pertumbuhannya yang cepat.
Ciri-ciri sapi Limousin warna bulu merah cokelat kecuali pada ambing berwarna putih, dari lutut ke kaki berwarna agak muda, terdapat bentuk lingkaran dengan warna agak muda di sekitar mata. Pada sapi jantan, tanduknya mengarah ke luar dan sedikit melengkung.

Sapi Limousin
(kttsejahtra.blogspot.com)

b. Sapi Simental
Sapi Simental berasal berasal dari lembah Simme di Switzerland. Sapi Simental termasuk tipe sapi penghasil daging, susu dan tenaga kerja (triguna). Produksi susu sapi Simental mencapai 3900 kg per laktasi. Ciri-ciri sapi Simental yaitu memiliki ukuran tubuh yang besar, pertumbuhan ototnya sangat baik dan tidak terdapat banyak timbunan lemak di bawah kulit, warna bulu umumnya krem kecoklatan, sedikit merah kecuali pada muka yang berwarna putih. Selain itu, dari lutut ke kaki dan ekor juga berwarna putih. Memiliki tanduk yang berukuran kecil.

c. Sapi Hereford
Sapi Hereford berasal dari daerah Hereford di Inggris. Sapi ini dikenal Karena kemampuan merumputnya yang luar biasa sehingga dijuluki ‘white faced cattle’.
Ciri-ciri sapi Hereford yaitu; tubuh rendah, tegap, lebar dan rata, perototannya baik, berwarna merah, daerah muka, dada, perut bagian bawah dan ekor berwarna putih. Bobot sapi jantan muda berumur 2 tahun mencapai 850 kg sedangkan betina pada umur yang sama mencapai 650 kg.

d. Sapi Shorthorn
Sapi Shorthorn berasal dari daerah bagian timur laut Inggris. Sapi ini mulai masuk ke Amerika Serikat pada tahun 1783 tepatnya di daerah Virginia.
Ciri-ciri sapi Shorthorn yaitu ukuran tubuh besar dan berbentuk segi empat, perototannya padat, berwarna merah hingga putih atau kombinasi merah putih, belang, bertitik-titik atau merah agak kelabu. Bobot jantan sapi dewasa mencapai 1000 kg dan sapi betina mencapai 750 kg.

e. Sapi Aberdeen Angus
Merupakan sapi potong keturunan Bos Taurus yang berasal dari Scotlandia Utara. Sapi Aberdeen Angus mulai masuk ke Indonesia pada tahun 1973.
Ciri-ciri sapi Aberdeen Angus yaitu berwarna hitam, tidak memiliki tanduk, tubuh rata, lebar dan dalam, memiliki perototan yang baik. Bobot sapi jantan dewasa mencapai 900 kg dan betina dewasa mencapai 700 kg.

f. Sapi Brahman
Sapi Brahman termasuk dalam golongan Bos Indicus yang berasal dari India. Sapi Brahman masuk ke Indonesia mulai tahun 1974. Sapi ini sering dijuluki sebagai sapi tipe potong daerah tropis yang terbaik. Sapi Brahman adalah hasil seleksi dari pembauran beberapa turunan sapi Zebu (Bos Indicus) yang kemungkinan memiliki sedikit campuran darah Bos Taurus.

Ciri-ciri sapi Brahman antara lain; memiliki punuk yang besar tapi pada betina punuknya berukuran kecil, kulit tubuh tampak longgar, bergelambir, telinga menggantung, berwarna gelap keabu-abuan tapi ada yang berwarna merah. Warna pada jantan lebih gelap dari betina. Sapi Brahman sangat tahan terhadap panas, tahan terhadap gigitan caplak dan nyamuk serta dapat beradaptasi terhadap pakan dengan kualitas rendah. Bobot tubuh sapi jantan dewasa dapat mencapai 800 kg sedangkan sapi betina dewasa mencapai 550 kg.

g. Sapi Brangus
Sapi Brangus merupakan hasil persilangan antara sapi Brahman betina dengan pejantan Aberdeen Angus. Sapi Brangus mewarisi sifat baik dari sapi Brahman yaitu tahan panas, mampu beradaptasi terhadap lingkungan dan pakan dengan kualitas rendah serta tahan terhadap gigitan serangga.
Ciri-ciri sapi Brangus antara lain; bulunya halus dan umumnya berwarna hitam atau merah, bergelambir, mempunyai punuk berukuran kecil, tidak memiliki tanduk, perototannya padat tapi bentuk tubuhnya kurang rata.

h. Sapi Charolais
Sapi Charolais berasal dari Perancis. Beberapa karakteristik sapi Charolais yang disukai yaitu memiliki perototan yang bagus terutama pada bagian loin dan paha belakang, memiliki maternal ability (kemampuan mengasuh anak) yang baik dan tahan terhadap suhu panas dan dingin.
Ciri-ciri sapi Charolais antara lain; memiliki postur tubuh yang besar dan padat namun kasar, berwarna krem, terang atau putih dengan pigmen kemerahan yang menyebar pada kulit, umumnya bertanduk tapi ada juga yang tidak bertanduk. Bobot sapi jantan dewasa mencapai 1000 kg dan sapi betina mencapai 750 kg.

i. Sapi Charbray
Sapi Charbary merupakan sapi hasil persilangan antara sapi Charolais dengan sapi Brahman. Ciri-ciri sapi Charbray yakni berwarna krem agak putih, memiliki tanduk dan punuk yang berukuran kecil. Bobot badan sapi jantan dewasa berkisar antara 1135–1455 kg dan sapi betina berkisar antara 770–990 kg.

j. Sapi Santa Gertrudis
Sapi Santa Gertrudis merupakan hasil persilangan antara sapi Brahman jantan dengan sapi betina Shorthorn. Komposisi darah sapi Santa Gertrudis yaitu 37,50 % darah Brahman dan 62,50 % darah Shorthorn. Sapi Santa Gertrudis mulai masuk ke Indonesia pada tahun 1973.
Ciri-ciri sapi Santa Gertrudis antara lain; proporsi tubuh yang rata dan padat, sapi jantan mempunyai punuk berukuran kecil, bergelambir, bulu berwarna cokelat kemerahan, pendek dan halus, mempunyai tanduk, bobot sapi jantan dewasa mencapai 900 kg sedangkan sapi betina mencapai 725 kg.

k. Sapi Beefmaster
Sapi Beefmaster merupakan hasil persilangan antara sapi Brahman dengan Hereford dan Shorthorn. Ras Beefmaster mengandung darah Brahman 50 % dan Hereford 50 %. Kelebihan sapi Beefmaster adalah tahan terhadap iklim yang bervariasi.
Ciri-ciri sapi Beefmaster yaitu memiliki warna bervariasi dari cokelat, cokelat kemerahan atau merah dengan sedikit bercak putih, mempunyai ukuran tubuh yang besar, mempunyai punuk berukuran kecil dan bertanduk.